Lanjut

Kamis, 15 Juli 2010

Bahan Pakan Sumber Energi dari Biji dan Umbi

BAHAN PAKAN SUMBER ENERGI DARI BIJI DAN UMBI

1. Sumber Energi dari Biji

Walaupun secara umum sorgum terkenal sebagai tanaman pangan (biji-bijian), sorgum manis lebih terkenal dalam penggunaannya sebagai pakan ternak (livestock fodder). Laju fotosintesis yang tinggi menyebabkan tinggi batang sorgum manis dapat mencapai 5 m, kondisi tanaman yang sangat baik untuk pembuatan silase. Selain itu, batangnya juga kaya akan gula yang selanjutnya dapat diproses menjadi jaggery (semacam gula merah) atau didestilasi untuk menghasilkan bioetanol. Sorgum manis dikenal sebagai tanaman onta atau “a camel among crops” karena memiliki daya adaptasi yang luas dan sangat tahan terhadap kondisi lahan marginal seperti kekeringan, lahan masam, lahan salin dan lahan alkalin (FAO, 2002).

Dari sisi budidaya agronomi, sorgum manis juga relatif lebih murah dan efisien dibanding tebu. Kebutuhan benih sorgum manis hanya 4-5 kg per hektar, sedangkan untuk menanam 1 ha kebun tebu diperlukan 4.500-6.000 kg stek bibit tebu. Bagi China, sorgum manis merupakan tanaman energi yang sangat potensial karena dapat mengahasilkan 7000 liter etanol per hektar per tahun. Potensi ini akan terus dikembangkan demi mengantisipasi krisis energi negara pada 2016 (FAO, 2002).

Untuk sekali siklus panen, produksi bioetanol sorgum di Amerika Serikat, misalnya, mencapai 10.000 liter/ha/tahun dan di India 3.000–4.000 liter/ha/tahun. Anderson dari Iowa State University melaporkan bahwa sorgum manis mengandung gula yang dapat difermentasi dan hasilnya setara dengan 400-600 gallons etanol per acre, atau kira-kira dua kali dibanding jagung Di India bioetanol sorgum digunakan diantarnya sebagai bahan bakar untuk lampu penerangan (pressurized ethanol lantern) disebut “Noorie” yang menghasilkan 1.250-1.300 lumens (kira-kira setara dengan bola lampu 100 W), kompor pemasak (pressurized ethanol stove) yang menghasilkan kapasitas panas 3 kW. Selain itu, pemerintah India telah mengeluarkan kebijakan mencampur bioetanol sorgum dengan bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor (Rajvanshi and Nimbkar, 2005).

Studi pemanfaatan bioetanol sorgum untuk campuran bahan bakar kendaraan bermotor juga telah dilakukan di Wallonia (Belgia). Wallonia memerlukan 16 billion hl bahan bakar jenis E5, yaitu campuran antara 95 % petrol + 5 % bioetanol. Sebanyak 800.000 hl etanol diperlukan untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar E5 di Wallonia, sumbernya berasal dari sorgum manis (70 %) gan gula bit atau sugar beet (30 %). Studi kelayakan tersebut dilaporkan berhasil membuktikan kemampuan campuran bioetanol sebagai bahan bakar yang efisien, mengurangi jumlah pemakaian bahan bakar fosil, dan mencegah pencemaran terhadap lingkungan (Sorghal-BioBase, 1997).

Bioenergi berasal dari tanaman diharapkan dapat menanggulangi krisis energi di masa depan yang diperkirakan kebutuhannya akan semakin meningkat. Bioenergi tanaman biasanya terlebih dahulu harus diubah menjadi gas bio (biogass) atau etanol (bioetanol) sebelum dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Seperti telah disebut di atas, sorgum manis memiliki peluang yang sangat baik untuk dijadikan bahan pembuatan bioetanol, sumber energi baru dan terbarukan.

Secara tradisional, bioetanol sebenarnya telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugar cane). Walaupun harga molases tebu relatif lebih murah, namun bioetanol sorgum memiliki peluang dapat berkompetisi mengingat beberapa kelebihan sorgum manis dibanding tebu sebagai berikut:

  • Tanaman sorgum memiliki produksi biji dan biomass yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu.
  • Adaptasi sorgum jauh lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal.
  • Tanaman sorgum memilki sifat lebih tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi dan genangan air dibanding tanaman tebu.
  • Kebutuhan air untuk tanaman sorgum hanya sepertiga dari tanaman tebu.
  • Sorghum memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tanaman tebu.
  • Laju fotosintesis dan pertumbuhan tanaman sorgum jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibanding tanaman tebu.
  • Menanam sorgum lebih mudah, kebutuhan benih hanya 4,5–5 kg/ha dibanding tebu yang memerlukan 4.500–6.000 kg stek batang.
  • Umur panen sorgum lebih cepat yaitu hanya 3-4 bulan, dibanding tebu yang dipanen pada umur 7 bulan.
  • Sorgum dapat diratun sehingga untuk sekali tanam dapat dipanen beberapa kali.

Industri bioetanol memerlukan lahan untuk perkebunan sorgum manis yang luas dan pertanaman harus dilakukan sepanjang tahun, dan sebaiknya tidak memanfaatkan lahan-lahan yang merupakan lahan pertanaman pangan. Dengan asumsi produktivitas sorgum dalam menghasilkan bioetanol sebesar 2000-3500 liter/ha/musim tanam atau 4000-7000 liter/ha/tahun, maka untuk menghasilkan 60 juta kilo liter/tahun bioetanol akan diperlukan lahan seluas 15 juta hektar (Yudiarto, 2005). Belajar dari China, mungkin kita dapat mengarahkan pengembangan sorgum manis di lahan seluas itu sejalan dan searah dengan pemanfaatan lahan-lahan marginal, lahan tidur, atau lahan non-produktif lainnya, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman lain.

  1. Sumber Energi Dari Umbi

Pengaruh penggunaan onggok & isi rumen sapi (OIRS) dalam pakan komplit terhadap penampilan kambing peranakan etawah (PE). Digunakan rancangan acak kelompok dengan memakai 12 ekor kambing PE jantan berbobot badan 23,5 – 30,8 kg terbagimenjadi 3 kelompok, dikandangkan individu selama 65 hari, dan diberi pakan komplit. Pakan perlakuan didasarkan pada kebutuhan akan nutrisi bagi ruminansia dengan protein kasar maksimal 14% dan serat kasar minimal 12%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penggunaan OIRS dalam pakan komplit berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi, kecernaan pakan, dan P, B, B. Disimpulkan bahwa penggunaan OIRS dalam pakan kambing PE sebesar 30% merupakan level optimum dan efisien dengan pertambahan bobot badan sebesar 71,92 g/ekor/hari.

Onggok sebagai hasil sampingan pembuatan tepung tapioka selain harganya murah, tersedia cukup, mudah didapat, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Menurut Rasyid dkk. (1996), onggok merupakan bahan sumber energi yang mempunyai kadar protein kasar rendah, tetapi kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna (BETN) bagi ternak serta penggunaannya dalam ransum mampu menurunkan biaya ransum. Lebih jauh isi rumen sapi (IRS) merupakan limbah organik dari rumah potong hewan dan sampai saat sekarang bahan ini masih menimbulkan masalah rumit dan mengganggu kebersihan lingkungan.

Kandungan nutrien tercerna dalam IRS cukup tinggi karena belum terserap oleh usus halus sehingga nutriennya tidak berbeda dengan bahan bakunya, bahkan mengandung asam amino essensial dari protein mikroba sehingga IRS memungkinkan dapat dimanfaatkan untuk pakan ruminansia sebagai pengganti hijauan (Kosnoto, 1999). Salah satu metode biologi yang dikembangkan untuk meningkatkan kecernaan bahan kering pakan adalah dengan memanipulasi ekosistem rumen dengan cara penambahan bahan carbonaseus consentrate seperti onggok yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi fermentasi di dalam rumen sehingga degradasi serat kasar dan sintesis protein mikrobial maksimal serta meminimalkan produk metan, degradasi protein, biohidrogenasi asam lemak tidak jenuh, dan fermentasi pati dalam rumen.

Berdasarkan beberapa pertimbangan di atas, perlu dikaji potensi limbah organik OIRS serta level OIRS dalam ransum yang memberikan respon terbaik terhadap penampilan kambing, yang menyangkut konsumsi, kecernaan pakan, dan pertumbuhan kambing peranakan etawah (PE).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar