Lanjut

Kamis, 19 Januari 2012

Istilah dalam Domba Tangkas

Istilah-istilah yang digunakan dalam seni ketangkasan domba Garut.

Adeg-adeg : Di dalam seni ketangkasan domba Garut diartikan sebagai kesesuaian postur tubuh mulai dari badan sampai kaki atau bentuk umum performa fisik domba yang dinilai dari; (1) kekokohan badan, leher, kepala (postur), (2) bentuk, ukuran, dan letak tanduk (jingjingan), dan (3) bentuk dan raut muka (ules). Dimaknakan penampilan dianggap dapat mencerminkan kemampuan dari seseorang.

Bobotoh : Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti orang yang menghidupkan semangat para orang yang sedang berkelahi. Di dalam seni ketangkasan domba Garut diartikan sebagai sekelompok orang yang meramaikan suasana pakalangan dengan cara ikut serta menari dan menyemangati domba yang sedang ditangkaskan dari salah satu grup domba. Dimaknakan dalam menjalani sebuah kehidupan manusia membutuhkan seorang motivator yang menjadi inspirasi di setiap melakukan aktivitasnya. Biasanya motivator bagi manusia pada umumnya yaitu keluarga (orang tua, istri, dan anak).

Dayut : Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti perut yang buncit. Di dalam seni ketangkasan domba Garut diartikan sebagai bentuk perut domba yang buncit dan turun ke bawah. Perut dayut pada domba tangkas dianggap tidak baik, karena menghambat kelincahan pada gerakan ancang-ancang mundur. Dimaknakan perut yang buncit melambangkan manusia yang serakah.

Gajah muling Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti gajah yang mengamuk. Di dalam seni ketangkasan domba Garut diartikan sebagai domba tangkas yag sangat agresif dan banyak diminati. Dimaknakan sebagai kekuatan yang besar dapat menyebabkan kerusakan yang besar juga.

Gayor Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti gantungan goong yang tidak bisa dilepas. Di dalam seni ketangkasan domba Garut diartikan sebagai bentuk tanduk domba tangkas dengan posisi tanduk yang ujungnya mengarah ke tengah. Dimaknakan sebagai keindahan dan kekuatan merupakan kuasa dari Tuhan pencipta bumi dan isinya

Kanjut laer Kanjut yang dalam bahasa Indonesia berarti kantong kecil untuk menyimpan uang dan laer dalam bahasa Indonesia berarti jauh dari batangnya. Diartikan sebagai bentuk scrotum domba tangkas yang panjang ke bawah. Domba tangkas yang memiliki kanjut laer kurang diminati karena menghambat kelincahan domba tangkas ketika berlaga di dalam pakalangan. Dimaknakan sebagai laki-laki yang sering gontaganti pasangan dan tidak setia kepada pasangannya

Kanjut nyendok Kanjut yang dalam bahasa Indonesia berarti kantong kecil untuk menyimpan uang dannyendok dalam bahasa Indonesia berarti bentuk seperti sendok. Diartikan sebagai bentuk scrotum domba tangkas yang melengkung ke depan seperti sendok yang cekungannya ke depan. Domba tangkas yang memilikikanjut nyendok banyak diminati karena tidak menghambat kelincahan gerak domba tangkas ketika berlaga dipakalangan. Dimaknakan sebagai laki-laki yang setia kepada pasangannya.

Leang-leang : Diartikan sebagai bentuk tanduk domba tangkas dengan sedikit lengkungan dan mengarah datar ke samping. Dimaknakan sebagai kegagahan seorang pendekar silat yang memiliki kumis yang lebat dan menyamping.

Malandang Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti pemimpin dalam sebuah permainan. Diartikan sebagai orang yang mendampingi domba yang sedang ditangkaskan di dalam pakalangan, dengan memberikan kode-kode sebagai perintah ancang-ancang mundur dan maju kepada domba. Dimaknakan sebagai pemimpin yang mengatur rakyatnya. Bila seorang pemimpin baik di dalam melaksanakan tugasnya maka rakyatnya akan sejahtera.

Ngabalok Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti bangun balok. Diartikan sebagai bentuk hidung dan mulut domba tangkas yang berbentuk kotak menyerupai balok. Dimaknakan sebagai bentuk muka petarung yang pemberani.

Ngabangus kuda Ngabangus memiliki kata dasar bangus yang dalam bahasa Indonesia berarti mulut, sedangkan kuda menunjukan binatang kuda. Diartikan sebagai bentuk hidung dan mulut domba tangkas yang menyerupai kuda. Dimaknakan sebagai domba tangkas yang memiliki tenaga besar dan tidak kenal lelah.

Ngabenkeun Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti adu atau mengadukan. Diartikan sebagai mengadukan domba di pakalangan. Dimaknakan sebagai perjuangan manusia di dalam menjalani kehidupannya. Dapat dimaknakan juga sebagai arena pendekar silat yang akan bertarung.

Ngabonteng Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti seperti buah mentimun. Diartikan sebagai bentuk badan domba yang panjang dan bulat. Dimaknakan sebagai manusia harus panjang akal dan tegas di dalam mengambil sebuah keputusan.

Ngabuah randu : Berasal dari kata ngabuah dan randu (bahasa Sunda). Ngabuah memiliki kata dasar buahyang dalam bahasa Indonesia berarti buah-buahan atau hasil yang didapat, sedangkan randu adalah pohon yang buahnya menghasilkan kapuk. Diartikan sebagai bentuk badan domba yang perutnya besar ke bagian depan (dada), dan kecil kebelakang. Dimaknakan sebagai kebanggaan sebagai seorang pesilat yang selalu siap untuk bertarung membela kebenaran. Seorang pesilat harus memiliki hati yang bersih dan berlapang dada bila mendapatkan kekalahan.

Ngadaun hiris Berasal dari kata ngadaun dan hiris (bahasa Sunda). Ngadaun memiliki kata dasar daun yang dalam bahasa Indonesia menunjukan daun (bagian dari pohon), sedangkan hiris berarti sejenis kacang. Berarti telinga domba tangkas yang ukurannya 4 cm sampai 8 cm. dimaknakan sebagai manusia harus menerima kritik dan saran dari orang lain demi kebaikan menjalankan kehidupannya.

Ngagolong awi Berasal dari kata ngagolong dan awi (bahasa Sunda). Ngagolong memiliki kata dasar golongyang dalam bahasa Indonesia berarti bergulung, sedangkan awi berarti bambu. Diartikan sebagai bentuk badan domba domba yang bulat dan simetris diameternya. Dimaknakan sebagai keseimbangan di dalam hidup. Apa yang kita lakukan di dunia ini harus seimbang, harus sesuai dengan porsinya.

Ngagolong tambang Berasal dari kata ngagolong dan tambang (bahasa Sunda). Ngagolong memiliki kata dasar golong yang dalam bahasa Indonesia berarti bergulung, sedangkan tambang berarti tali tambang. Diartikan sebagai bentuk tanduk domba tangkas yang melingkar dan menggulung ke samping. Dimaknakan sebagai kehidupan manusia yang penuh liku-liku.

Ngaregang haur Berasal dari kata ngaregang dan haur (bahasa Sunda). Ngaregang dalam bahasa Indonesia berarti ranting pohon, sedangkan haur berarti sejenis bambu. Diartikan sebagai tipe kaki domba tangkas yang berukuran kecil atau lancip ke bagian bawah namun kelihatan kokoh dan kuat. Dimaknakan sebagai manusia harus berusaha berdiri di kakinya sendiri jangan terlalu mengharapkan bantuan dari orang lain bila ditimpa masalah kehidupan.

Nyandingkeun Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti menyandingkan. Diartikan sebagai kegiatan mencari lawan tanding. Dimaknakan sebagai pendekar silat harus melihat kemampuan diri ketika akan melawan seorang pendekar silat lainnya.

Nyatria Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti kasta kedua dari agama Hindu yaitu; golongan bangsawan. Diartikan sebagai domba tangkas keturunan juara yang bentuk kepalanya lengkung. Dimaknakan sebagai bangsawan harus memiliki wibawa dan memiliki sifat yang bijaksana.

Nyinga Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti menyerupai binatang singa. Diartikan sebagai model potongan bulu yang dipanjangkan pada bagian dada domba tangkas yang menyerupai singa. Dimaknakan sebagai symbol kejantanan, karena pada singa hanya singa jantan saja yang memiliki bulu panjang di dadanya.

Nyurucut Berasal dari kata dasar cucut (bahasa Sunda) yang dalam bahasa Indonesia berarti ikan hiu. Diartikan sebagai bentuk kepala domba tangkas yang panjang dan kecil. Dimaknakan sebagai petarung yang lincah siap memangsa lawanlawannya

Pa Haji Berasal dari kata Pa dan haji (bahasa Sunda). Pa yang dalam bahasa Indonesia adalah Pak(menunjukan sebutan laki-laki dewasa), sedangkan haji menunjukan rukun Islam yang kelima, yaitu; menunaikan ibadah haji ke tanah suci (Mekah). Jadi istilah Pa Haji memiliki pengertian laki-laki dewasa yang sudah menunaikan ibadah haji. Diartikan sebagai orang yang memiliki domba tangkas. Dimaknakan sebagai simbol status sosial seseorang didasarkan pada tingkat ekonomi dan kepemilikan benda.

Petet Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti mata yang tidak bisa dibuka atau sebutan untuk tumbuh-tumbuhan yang masih kecil. Diartikan sebagai anak domba tangkas yang belum siap ditandingkan. Dimaknakan sebagai manusia yang masih muda biasanya belum banyak pengalaman dan pengetahuannya. Oleh karena itu harus sering bertanya dan belajar kepada orang yang lebih tua.

Rumpung Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti buntung atau patah hingga putus. Diartikan sebagai telinga domba tangkas yang berukuran di bawah 4 cm. Dimaknakan sebagai manusia harus peka terhadap sekitar, baik itu dengan manusia lainnya ataupun dengan lingkungan alam sekitarnya.

Ules Bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti muka manusia atau bulu pada kuda. Diartikan sebagai bentuk dan raut muka domba tangkas. Dimaknakan sebagai menilai manusia jangan dari luar (fisik) saja, tetapi yang lebih penting adalah dari sifat dan kelakuannya.

Bentuk Fisik

Badan domba Bentuk badan domba Garut yang lebih besar dan kekar bila dibandingkan dengan jenis-jenis domba jantan local yang ada di Indonesia, merupakan lambang dari kegagahan dan sifat pemberani yang dimiliki pendekar silat. Seorang pendekar silat harus siap bertarung membela kebenaran dan harga diri yang dimilikinya

Bentuk kepala domba/profil Bentuk kepala domba/profil merupakan perlambang dari nilai estetika yang dimiliki domba. Bentuk kepala juga dikaitkan dengan sifat yang dimiliki oleh domba seperti halnya juga bentuk kepala pada manusia yang dapat membentuk stigma sifat tertentu. Misalnya bentuk kepala yang kotak biasanya diidentikan dengan sifat yang kasar.

Bulu domba Bulu pada domba merupakan bagian tubuh yang melindungi organ dalam domba. Selain fungsi tersebut bulu juga merupakan nilai estetika dan identitas dari seekor domba. Bulu yang mengkilap, halus, dan tebal adalah penentu dari penampilan seekor domba. Seperti halnya kulit pada manusia, kulit yang halus dan terawat mempengaruhi penampilan dari seseorang. Kulit pada manusia juga menjadi penentu identitas ras pada seorang manusia.

Domba Domba merupakan petarung yang berlaga di arena. Domba adalah pengganti manusia yang bertarung. Di balik semua itu sebenarnya yang bertarung di dalam seni ketangkasan domba Garut adalah pemilik domba tersebut. Harga diri sebagai seorang petarung di pertaruhkan di dalam arena. Seorang petarung yang berusaha sekuat mungkin dan pada akhirnya kalah serta mengakui kekalahannya, maka petarung tersebut dinyatakan kalah dengan terhormat sebagai petarung sejati.

Ekor domba Ekor pada domba menurut para peternak domba Garut, berfungsi sebagai penyeimbang tubuh dan menjadi tanda ekspresi dari domba, misalkan bila ada domba betina, maka domba jantan akan menggoyangkan ekornya sebagai tanda ketertarikan akan lawan jenisnya (terangsang secara seksual). Ekor domba dimaknakan sebagai bahasa tubuh merupakan bahasa yang paling jujur, tidak dapat berbohong.

Kaki domba Kaki domba adalah bagian tubuh yang digunakan sebagai alat penopang badan berpijak ke tanah. Selain itu kaki domba berfungsi sebagai ancangancang mundur dan berlarinya domba. Kaki dimaknai sebagai seorang pendekar harus dapat berdiri sendiri, yang artinya harus teguh keyakinan tidak mudah dipengaruhi hal negatif dari orang lain.

Kanjut domba Kanjut domba atau scrotum, merupakan organ tubuh domba jantan. Makna dari kanjut domba adalah lambing kesuburan laki-laki, yang melambangkan kejantanan.

Muka domba Muka domba adalah bagian dari nilai estetik dari seekor domba. Seperti halnya dengan manusia penilaian estetik muka domba relatif, ada yang tampan dan ada juga yang tidak tampan. Dimaknakan setiap ketampanan fisik dapat diperoleh melalui hati yang bersih, ikhlas dan dijauhkan dari rasa iri/dengki.

Tanduk domba Tanduk domba merupakan lambing kejantanan dari seorang laki-laki. Karena domba betina tidak memiliki tanduk, walaupun ada tumbuhnya tidak sebesar tanduk domba jantan. Tanduk juga diibaratkan sebagai bedog senjata yang sering digunakan oleh para pesilat di Jawa Barat. Sebagai senjata seorang pesilat,bedog harus menjadi teman yang tidak dapat dipisahkan ketika pesilat menghadapi lawannya.

Telinga domba Telinga yang berfungsi sebagai alat pendengar dimaknakan sebagai prinsip hidup. Seorang yang tinggi ilmunya harus tetap mendengarkan pendapat orang lain. Jangan takabur karena setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki, kita tetap seorang manusia yang tidak sempurna.

Gestur/Gerakan

Gerakan malandang Gerakan malandang dengan mengangkat tangan dengan jari terbuka atau dengan mengacungkan jari telunjuknya sambil menggerakannya ke depan dan ke belakang dimaknai sebagai seorang pesilat yang sedang mengeluarkan jurus-jurusnya ketika sedang bertarung. Jurus-jurus tersebut meliputi kuda-kuda, tangkisan, pukulan, dan tendangan. Seorang pesilat tidak boleh sembarangan mengeluarkan jurus andalannya, jurus tersebut hanya digunakan ketika keadaan mendesak sebagai tindakan pembelaan diri, tidak boleh dipergunakan untuk kejahatan.

Gerakan wasit Gerakan wasit dimaknai sebagai seorang pemimpin yang bijaksana di dalam mengambil sebuah keputusan. Seorang pemimpin di dalam mengambil keputusan harus memihak kepada kepentingan rakyat.

Ngibing Ngibing yang merupakan gerakan menari sebagai kaul/ekspresi kegembiraan ketika domba yang didukungnya tampil baik, di maknai sebagai perjalanan hidup seseorang yang terkadang mendapatkan kebahagiaan dan terkadang mendapatkan kesusahan. Ketika kita mendapatkan kebahagian kita harus mensyukurinya, dan ketika menghadapi kesusahan kita janganlah merasa putus asa.

Nyawer Nyawer adalah memberikan uang kepada sinden ketika sedang mengibing, dimaknai sebagai tingkatan manusia di mata manusia dinilai dengan uang, sedangkan tingkatan manusia di mata Tuhan dinilai dengan amal dan ibadahnya.

Pemijatan/pengurutan Pemijatan/pengurutan pada domba dimaknai sebagai orang tua yang merawat anaknya dari kecil hingga dewasa dengan rasa kasih sayang sampai akhir hayatnya.

Latar Ngadu Domba

Bonang Bentuk kerangka bonang yang seperti perahu menandakan perahu merupakan penyelamat manusia ketika sedang terjadi musibah banjir besar di jaman Nabi Nuh. Sedangkan goonggoong kecil yang kecil yang ada pada bonang mengeluarkan suara yang berbeda-beda menandakan keadaan hidup manusia selalu berubah-rubah.

Galar Galar merupakan pagar pembatas pakalangan dengan penonton, dimaknakan manusia harus mengetahui perannya, jangan mencampuri urusan orang lain.

Gongseng Merupakan nilai estetis sebagai perhiasan domba. Umbul-umbul dengan beraneka macam warna terang (merah,kuning,hijau muda), menunjukan harapan untuk meraih kehidupan yang sejahtera.

Goong Bunyi yang dihasilkan dari goong, dimaknakan sebagai peringatan kepada manusia untuk selalu ingat kepada Tuhan.

Kendang Bunyi kendang yang “gulipakgulipek” atau “koletak-koletak” dimaknakan sebagai manusia yang mencari Tuhan Yang Maha Kuasa

Laken Sebagai simbol penutup kepala seorang peternak. Identik dengan cowboy Amerika yang maskulin.

Pakalangan domba Dimaknakan sebagai arena pertarungan hidup manusia. Arena pertarungan tersebut adalah dunia yang mana terjadi pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Manusia yang kalah di pertarungan dunia tersebut akan terseret ke dalam kejahatan

Pamidangan domba Dimaknakan sebagai alam semesta ciptaan Tuhan. Dunia yang kita tempati hanya sebagian kecil dari keseluruhan jagad raya. Manusia yang menempati dunia janganlah bersifat sombong karena manusia adalah mahluk yang kecil di mata Tuhan.

Pangsi Pangsi merupakan pakaian pencak silat yang bewarna hitam. Warna hitam dimaknakan sebagai warna keberanian menegakan kebenaran.

Panyancangan domba Tempat mengikatnya domba ini dimaknakan sebagai manusia yang terikat oleh agama dan adat istiadat. Agama dan adat istiadat dijadikan kontrol oleh manusia di dalam berbuat dan bertingkah laku.

Saron Menurut para pemain nayaga saron merupakan pengatur ritme/tempo di dalam seni karawitan. Dimaknakan sebagai patokan waktu kapan manusia bekerja dan kapan manusia istirahat. Itu semua penting karena kondisi tubuh manusia tidak bisa dipaksakan.

Tarumpah Dimaknakan sebagai pijakan hidup di dunia adalah syareat dari Tuhan pencipta. Selagi manusia menapak di bumi ada perhitungan untuk bekal kita di alam yang lain setelah manusia mati.

Tarompet : Dimaknakan sebagai teriakan hati manusia yang sedang bersedih.

Totopong/iket : Ikat kepala para pendekar silat, yang dimaknakan sebagai seorang jawara yang tidak takut dari semua ancaman.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar